kata vina

November 29, 2007

BUKAN BUKU, TAPI KARDUS

Filed under: Uncategorized — vin @ 5:28 am

Ah, ada- ada saja kau ini
Mengataiku beromong kosong

Memangnya aku ini kaleng rombeng
Yang kau tendang setiap kali berjalan menuju rumahmu

Dasar bebal!
Sudah berapa kali ku katakan, kau tidak percaya juga

Buku di sakumu itu bukan masa depanmu
Melainkan setumpuk kardus di depan rumah itu

Sudah! Buang saja anganmu menjadi dewa penolong
Lebih baik kau pikirkan dengan apa kau isi perutmu hari ini

Bukumu itu menghabiskan uangku
Yang lebih baik ku tukarkan dengan nasi uduk

Cukup! Jangan lagi kau umbar mimpi
Berandai-andai pada malaikat tambun

Lebih baik kau tutup mimpimu
Lalu kembali kau ambil kardus-kardus itu

Gresik, 28 November 2007
Hampir 10.30 malam

DISELINGKUHI

Filed under: cinta, lelaki — vin @ 5:21 am

‘Aku benci jatuh cinta!’, katamu

 

Lalu, mengapa masih kau cari lelaki?

Untuk kau lingkarkan cincin di jarinya?

 

Bodoh!

Kenapa tidak kau cari saja one night stand

Sambil clubbing lalu diakhiri dengan bercinta

 

‘Ini membuatku bodoh!’, lanjutmu

 

Memang!

Lalu, mengapa kau masih saja mencari cinta?

 

Aaaahhh! Sudahlah!

Lebih baik kau puaskan menangisi kebodohanmu

Lantas bunuh dia dari hatimu

 

Habis perkara.

 

Gresik, 28 November 2007

Setelah baca smsnya ‘ti’

Elang, Bintang Dan Langit

Filed under: hidup — vin @ 5:17 am

diam, tenang, sunyi, mata terpejam, kulit menyatu dengan belaian angin pantai, ujung2 kaki menari bersama pasir terseret ombak

biarkan jiwa sejenak hanyut bersama pasir yang saling beradu dengan pecahan karang

 
aku ’kan berlari sejauh ku bisa

meninggalkan jejak tersebar, biarlah

biar deburan ombak membasahi hati kering

membasuh semua luka dan pedih perih yg merajam

biar saja meski terkelupas

asal tak hilang denyut nadi yang bernafas

asal tak luruh jiwa yang sudah terkoyak

biarlah pergi biarlah hilang biarlah redam

 
wahai kekasih

dalam diam mu

bukalah pintu hati

biarkan hangat mentari memasuki ruangan hati

rasakan hangatnya mengeringkan semua luka

biarkan hangatnya menghalau semua airmata yang melembabkan ruang hati

 
wahai kekasih

dalam diam mu

rasakan pantai memelukmu

menghibur hatimu

merengkuh semua asamu

 
meski kini langitku hilang

sedang aku hanyalah elang terluka

terbang tinggi tinggi membumbung

jauh ke pendarnya mentari

entah terkikis entah tidak luka itu

entah kapan juga langit kan menggelap

hingga wujudku akan tampak secantik bintang

 
lautan luas membentang menepis cakrawala

di sa’at langit tak lagi ramah

di lautan akan kudapatkan kebebasan

di sa’at sayapku patah

di kedalaman aku tetap melayang

dalam gelap dalamnya lautan

aku akan selalu berpendar

meskipun aku bukan bintang

 
elang itu tlah pergi kini

menjauh entah kapan kembali

dengan sayapnya yang terluka

mengangkasa ke batas cakrawala

berteman harap yang tak mengering

meski tertatih terseok-seok

berharap esok hari ada langit

 

 

surabaya – semarang; ’ketika dia tlah berlalu’

23 november 2007

“dewi“

Next Page »

Blog at WordPress.com.