diam, tenang, sunyi, mata terpejam, kulit menyatu dengan belaian angin pantai, ujung2 kaki menari bersama pasir terseret ombak
biarkan jiwa sejenak hanyut bersama pasir yang saling beradu dengan pecahan karang
aku ’kan berlari sejauh ku bisa
meninggalkan jejak tersebar, biarlah
biar deburan ombak membasahi hati kering
membasuh semua luka dan pedih perih yg merajam
biar saja meski terkelupas
asal tak hilang denyut nadi yang bernafas
asal tak luruh jiwa yang sudah terkoyak
biarlah pergi biarlah hilang biarlah redam
wahai kekasih
dalam diam mu
bukalah pintu hati
biarkan hangat mentari memasuki ruangan hati
rasakan hangatnya mengeringkan semua luka
biarkan hangatnya menghalau semua airmata yang melembabkan ruang hati
wahai kekasih
dalam diam mu
rasakan pantai memelukmu
menghibur hatimu
merengkuh semua asamu
meski kini langitku hilang
sedang aku hanyalah elang terluka
terbang tinggi tinggi membumbung
jauh ke pendarnya mentari
entah terkikis entah tidak luka itu
entah kapan juga langit kan menggelap
hingga wujudku akan tampak secantik bintang
lautan luas membentang menepis cakrawala
di sa’at langit tak lagi ramah
di lautan akan kudapatkan kebebasan
di sa’at sayapku patah
di kedalaman aku tetap melayang
dalam gelap dalamnya lautan
aku akan selalu berpendar
meskipun aku bukan bintang
elang itu tlah pergi kini
menjauh entah kapan kembali
dengan sayapnya yang terluka
mengangkasa ke batas cakrawala
berteman harap yang tak mengering
meski tertatih terseok-seok
berharap esok hari ada langit
surabaya – semarang; ’ketika dia tlah berlalu’
23 november 2007
“dewi“